BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pembangunan Nasional merupakan suatu usaha untuk meningkatkan
kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan
dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan
tantangan perkembangan global.
Dalam pelaksananan Pembangunan Nasional harus mengacu pada
kepribadian bangsa dan nilai luhur yang menyeluruh untuk mewujudkan kehidupan
bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, dan kukuh
kekuatan moral dan etikanya (GBHN 1999-2000).
Di era globalisasi seperti sekarang ini, pembangunan dunia
pariwisata dapat dijadikan sebagai prioritas utama dalam menunjang pembangunan
suatu daerah. Pengembangan pariwisata dilakukan bukan hanya untuk kepentingan
wisatawan mancanegara saja, namun juga untuk
menggalakkan kepentingan wisatawan dalam negeri. Pembangunan
kepariwisataan pada hakikatnya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan
daya tarik wisata yang berupa kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna,
seni budaya, peninggalan sejarah, benda-benda purbakala serta kemajemukan
budaya.
Dalam
rangka mencapai tujuan pengembangan pariwisata, pembangunan pariwisata harus
diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam. Semakin besar sumber daya alam
yang dimiliki suatu negara, maka semakin besar pula harapan untuk mencapai
tujuan pembangunan dan pengembangan pariwisata.
Tujuan pengembangan pariwisata akan berhasil dengan optimal bila
ditunjang oleh potensi daerah yang berupa objek wisata alam maupun objek wisata
buatan manusia. Yoeti (1996:5) mengatakan bahwa pembangunan dan pengembangan daerah menjadi
daerah tujuan wisata tergantung dari daya tarik itu sendiri yang dapat berupa
keindahan alam, tempat bersejarah, tata cara hidup bermasyarakat maupun upacara
keagamaan.
Dari uraian tersebut, sektor kepariwisataan perlu mendapat penanganan yang serius karena
kepariwisataan merupakan kegiatan lintas sektoral dan lintas wilayah yang
saling terkait, diantaranya dengan sektor industri, perdagangan, pertanian,
perhubungan, kebudayaan, sosial-ekonomi, politik, keamanan serta lingkungan.
Dalam pengembangan suatu tempat wisata
dibutuhkan beberapa
faktor-faktor yang menunjang kesempurnaan tempat wisata, “Faktor-faktor itu
terkait dengan 5 unsur pokok pengembangan daerah tujuan wisata adalah daya
tarik wisata, prasarana, sarana, tatalaksana, dan masyarakat
lingkungan (Suwantoro dalam Purnomo, 2012 :2).
Dalam menjalankan perannya, industri pariwisata
harus menerapkan konsep dan peraturan serta panduan yang berlaku dalam pengembangan
pariwisata agar mampu mempertahankan dan meningkatkan jumlah kunjungan
wisatawan yang nantinya bermuara pada pemberian manfaat ekonomi bagi industri
pariwisata dan masyarakat lokal.
Disamping
perlunya pula peningkatan promosi dan pemasaran pariwisata serta peningkatan
pendidikan dan pelatihan pariwisata, penyediaan sarana-prasarana mutu dan
kelancaran pelayanan penyelenggaraan pariwisata. Pengembangan
pariwisata adalah upaya untuk meningkatkan sumber daya yang dimiliki oleh suatu
objek wisata dengan cara melakukan pembangunan dari berbagai unsur, baik unsur
alam atau buatan manusia dari sistem pembangunan pariwisata sehinggga
meningkatkan produktifitas objek wisata. Dalam hal ini yang dimaksud dengan
produktifitas objek wisata berupa meningkatnya pendapatan daerah yang diperoleh
dari kunjungan wisatawan yang masuk. Pengembangan pariwisata dalam penelitian
ini adalah tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini
pemerintah Kabupaten Lumajang untuk mengembangkan pariwisata.
Sebagai
salah satu daerah tujuan wisata,
Kabupaten Lumajang
memiliki aset wisata yang cukup beragam yang dapat memenuhi segala kebutuhan
kepariwisataan jika aset tersebut dimanfaatkan secara optimal. Salah satu
potensi wisata yang belum berkembang
dan merupakan objek wisata yang potensial untuk dikunjungi adalah objek wisata Segitiga Danau yang terletak
di Kecamatan Klakah dan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang.
Objek
wisata Segitiga Danau merupakan objek
wisata dengan latar belakang kondisi alam yang sangat indah yang terletak di lereng pegunungan Lamongan. Objek wisata ini
mempunyai daya tarik tersendiri yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung.
Hal tersebut dikarenakan objek wisata ini tidak hanya menyajikan potensi berupa
Danau saja, tetapi juga
didukung oleh potensi yang lain seperti areal bermain untuk anak-anak, air terjun, kolam renang, tambak ikan,
serta pemandangan yang indah dan udara pegunungan yang sejuk.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan penulis tertarik untuk
meneliti tentang kondisi objek wisata tersebut dan pengembangan objek tersebut
dari sudut pandang geografis dengan mengambil judul Analisis Pengembangan Objek
Wisata Segitiga Danau Di Kabupaten Lumajang.
B.
Rumusan
Masalah
Dari latar belakang yang telah dijelaskan, penulis dapat
merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.
Faktor-faktor
geografi apa sajakah yang dapat mendukung pengembangan objek wisata Segitiga Danau di Kabupaten Lumajang?
2.
Bagaimana
usaha yang dilakukan untuk pengembangan wisata Segitiga Danau di Kabupaten Lumajang?
3.
Potensi-potensi
alam apa sajakah yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik tambahan di dalam
kawasan objek wisata Segitiga
Danau di Kabupaten Lumajang?
4.
Bagaimanakah kontribusi obyek
wisata Segitiga Danau di Kabupaten Lumajang terhadap warga sekitar obyek wisata?
C.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal sebagi berikut :
1.
Mengetahui
faktor-faktor geografi yang mendukung dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau.
2.
Mengetahui
usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Lumajang dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau.
3.
Mengidentifikasi
potensi-potensi alam yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik tambahan di
dalam kawasan objek wisata Segitiga
Danau.
4.
Untuk mengetahui kontribusi obyek wisata Segitiga
Danau terhadap warga sekitar obyek wisata.
D.
Manfaat
Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara praktis
maupun secara teoritis.
1.
Manfaat
praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah
daerah, khususnya bagi Dinas Pariwisata dalam mengembangkan objek pariwisata
dan menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menyangkut kepariwisataan
dengan tetap memperhatikan faktor-faktor geografi.
2.
Manfaat
secara teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
pengembangan ilmu geografi, khususnya untuk pengembangan geografi
kepariwisataan.
E.
Definisi
Operasional
Sesuai
dengan judul yang penulis angkat dalam skripsi ini, maka definisi
operasionalnya ialah sebagai berikut :
1.
Industri pariwisata
Industri pariwisata, adalah kumpulan
dari macam-macam perusahaan yang secara bersamaan menghasilkan barang-barang
dan jasa-jasa (goods and service)
yang dibutuhkan wisatawan pada khususnya dan traveller pada umumnya, selama
dalam perjalanannya.
2 . Pariwisata
Pariwisata
adalah segala sesuatu yang
berkaitan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta
usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Pariwisata adalah
perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan
perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian
dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam,
ilmu dan agama.
3.
Pengembangan
Usaha
atau tindakan secara bertahap yang bertujuan untuk menjadikan sesuatu menjadi
lebih baik dan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dan direncanakan. Dalam
hal ini mengandung pengertian
usaha atau tindakan dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau agar berkembang
sesuai dengan yang direncanakan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian geografi menurut hasil Semlok di Semarang tahun 1988 adalah geografi
merupakan ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan
sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan. Menurut
Bintarto (1991) ruang lingkup geografi dibagi menjadi: 1) lingkup fisikal yang
meliputi aspek topologi, aspek fisik, aspek
biotis; dan 2) lingkup
non fisikal yang meliputi aspek sosial, aspek ekonomi, aspek budaya.
Daldjoeni
(2004:22) menyebutkan
bahwa geografi mempunyai empat
unsur sebagai berikut: 1) unsur
fisik yang meliputi
pantai, cuaca, iklim, relief, tanah, mineral, air, jalan; 2) unsur biotis yang meliputi
tumbuhan, hewan, manusia,mikro organisme; 3) unsur teknis yang meliputi jaringan jalan, alat komunikasi, alat
transportasi, perhotelan, rumah makan, pergudangan; dan 4) unsur
abstrak yang meliputi bentuk, luas, lokasi, jarak, waktu.
Dari ruang lingkup geografi tersebut sebenarnya telah disebutkan
faktor-faktor geografis, yaitu jenis-jenis di dalam faktor alam yang mempunyai
pertalian langsung atau tidak langsung dengan kehidupan manusia dalam arti
memberikan fasilitas kepadanya untuk menghuni permukaan bumi sebagai wilayah.
Daldjoeni
(2004: 24) menyimpulkan bahwa faktor-faktor
geografi fisik disuatu daerah yang mempengaruhi kehidupan adalah:
1.
Lokasi, lokasi suatu tempat
dalam suatu wilayah adalah penting juga untuk relasi keruangan yang lain
seperti posisi, jarak, luas, serta bentuk. iklim, menentukan hasil pertanian, daerah
tropika yang baik untuk berbagai macam perkebunan menjadi rebutan kaum penjajah
dimasa lampau, iklim ikut menentukan tata kerja sepanjang tahun.
2.
Bentuk relief, mempengaruhi
pelaksanaan pengangkutan, perbedaan relief yang menonjol juga akan menyebabkan
perbedaan suhu tahunan, keindahan tamasya dan pembuangan air (rawa, danau dan
bendungan).
3.
Tipe tanah menentukan
kesuburan wilayah, tanah berkapur melahirkan daerah dengan penduduk miskin dan
kurang gizi. Tanah yang subur mendasari
kepadatan penduduk yang membawa berbagai masalah pula.
4.
Kontak dengan lautan yang
penting.
5.
Jenis flora fauna,
mempengaruhi kegiatan perekonomian manusia.
6.
Kondisi air menentukan dapat
tidaknya wilayah dihuni dengan baik sehingga merupakan kunci bagi lahirnya
peradaban manusia.
7.
Sumber-sumber mineral
mempengaruhi dan mendorong perdagangan.
Menurut Bintarto dan Surostopo
Hadisumarno (1991:12) dalam bukunya “Metode Analisis Geografi”, mereka menyebutkan
tiga pendekatan atau analisis yang di gunakan dalam mempelajari geografi yaitu:
1) pendekatan keruangan; 2) pendekatan kompleks wilayah; dan 3) pendekatan ekologi.
a)
Pendekatan
Keruangan
Pendekatan keruangan atau
analisis keruangan mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting
atau seri sifat-sifat penting. Dengan kata lain dapat diutarakan bahwa dalam analisis
keruangan yang harus diperhatikan adalah penyebaran penggunaan ruang yang telah
ada dan penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang dirancangkan.
b)
Pendekatan
Kompleks Wilayah
Kombinasi antara analisis keruangan dan analis ekologi merupakan
analisis kompleks wilayah. Pada analisis ini wilayah-wilayah tertentu didekati
atau dihampiri dengan pengertian areal differentiation, yaitu suatu
anggapan bahwa interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada hakekatnya
suatu wilayah berbeda dengan wilayah yang lain. Dalam pendekatan ini perlu diperhatikan
pula mengenai penyebaran fenomena tertentu (analisis keruangan) dan interaksi
antar variabel manusia dengan lingkungannya untuk kemudian dipelajari kaitannya
(analisis ekologi).
c)
Pendekatan Ekologi
Ekologi merupakan studi
mengenai hubungan antara organisme hidup dengan lingkungannya. Pendekatan
ekologi dapat digambarkan sebagai hubungan timbal balik antara organisme dengan
lingkungannnya.
Pendekatan ekologi yang dipakai dalam kajian geografi berbeda dengan pendekatan ekologi yang dipakai
dalam kajian ilmu biologi, hal ini karena fokus kajian geografi bersifat human
oriented, dengan demikian interelasi antara manusia/kegiatan dengan lingkungannya
menjadi topik utama dalam ilmu geografi. Berdasarkan inventarisasi penelitian
yang ada dapat dipahami bahwa pendekatan ekologi dalam geografi mempunyai empat
tema analisis yaitu:
1)
Human
Behaviour-Environment Analysis
Temaanalisis ini mempunyai fokus
kajian pada perilaku manusia terhadap lingkungannya.
2)
Phsyco
Artificial Features-Environment Analysis
Tema analisis ini
menekankan pada lingkungan fisikal yang terjadi sebagai akibat dari aktivitas
manusia (hasil budaya manusia) dengan lingkungannya.Dinamika yang terdapat
dalam lingkungan sosial dapat menimbulkan perubahan gagasan manusia sehingga
dapat menimbulkan penyesuaian dan pembaharuan sikap dan tindakan terhadap
lingkungan tempat manusia itu hidup.
3)
Human
Activity-Environment Analysis
Tema analisis ini fokus
kajiannya terletak pada kegiatan manusia hubungannya dengan lingkungan sekitar
kehidupan manusia.
4)
Phsyco
Natural Features-Environment Analysis
Tema analisis ini
menekankan pada keterkaitan antara kenampakan-kenampakan fisikal alami dengan
elemen-elemen lingkungnnya.
Di sisi lain lingkungan fisikal tempat manusia tinggal dapat
mengalami perubahan bentuk dan fungsi yang disebabkan oleh campur tangan
manusia (Sabari, 2004:9).
B.
Pengertian Pariwisata
Pariwisata berarti kegiatan perjalanan seseorang atau serombongan
orang dari tempat tinggal asalnya ke suatu tempat di kota lain atau di negara
lain dalam jangka waktu tertentu (Karyono, 1997:15).
Istilah
pariwisata berhubungan erat dengan pengertian perjalanan wisata, yaitu suatu
perubahan tempat tinggal sementara seseorang diluar tempat tinggalnya karena
suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan upah (Wiwoho,
1993:24).
Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa perjalanan wisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan oleh seorang
atau lebih dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kenikmatan dan memenuhi
hasrat ingin mengetahui sesuatu. Dapat juga karena kepentingan yang berhubungan
dengan olah raga untuk kesehatan, konfensi, keagamaan, dan keperluan usaha yang
lainnya.
Menurut A.J. Burkart dan S. Medlik
(2007:15), pariwisata berarti perpindahan orang untuk sementara (dan) dalam
jangka waktu pendek ke tujuan-tujuan di luar tempat dimana mereka biasanya
hidup dan bekerja, dan kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal ditempat-tempat
tujuan tersebut (Soekadijo dalam Kurniawan 2011:7).
Menurut
Prof. Hunzieker dan Prof. K. Krapf, pariwisata dapat didefinisikan sebagai
keseluruhan jaringan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang
asing disuatu tempat, dengan syarat bahwa mereka tidak tinggal disitu untuk
melakukan suatu pekerjaan yang penting yang memberikan keuntungan yang bersifat
permanen maupun sementara (Soekadijo dalam Kurniawan, 2011:8)
Kegiatan
kepariwisataan merupakan kegiatan yang melibatkan berbagai kepentingan (multi
sektoral) dan erat hubungannya dengan perkembangan ekonomi global. Disamping
itu kepariwisataan merupakan kegiatan yang mengandalkan pemanfaatan potensi
sumber daya alam binaan yang ada pada masing-masing objek dan daya tarik wisata
dengan tetap berpedoman pada keseimbangan dan pelestarian (tanpa merusak
potensi alam yang dimiliki) seperti yang tercantum dalam UU No. 9 Tahun 1990
tentang kepariwisataan.
Beberapa istilah yang berhubungan dengan
kepariwisataan antara lain :
1.
Wisata adalah kegiatan
perjalanan yang bersifat sementara waktu untuk menikmati objek atau daya tarik
wisata.
2.
Wisatawan adalah orang yang
melakukan kegiatan wisata
3.
Kepariwisataan adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.
4.
Pariwisata adalah segala
sesuatu yang berhubungan dengan wisata serta usaha lain yang terkait dengan
bidang tersebut.
5.
Objek dan daya tarik wisata
adalah sesuatu yang menjadi sasaran wisata.
6.
Usaha pariwisata adalah
kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan objek
dan daya tarik wisata.
7.
Kawasan pariwisata adalah
kawasan dengan luas tertentu yang di bangun atau disediakan untuk memenuhi
kebutuhan pariwisata.
Dari uraian tersebut dapat kita ambil beberapa unsur yang
terkandung dalam kepariwisataan, antara lain :
a)
Perjalanan
itu dilakukan untuk sementara waktu.
b)
Perjalanan
itu dilakukan dari tempat satu ke tempat lainnya.
c)
Perjalanan
itu walau apapun bentuknya, harus selalu dikaitkan dengan pertamasyaan atau
rekreasi.
d)
Orang yang
melakukan perjalanan tidak mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya dan
semata-mata sebagai konsumen di tempat tersebut.
C.
Bentuk dan Jenis Pariwisata
Pariwisata merupakan
rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun
kelompok di dalam wilayah negara sendiri atau di negara lain. Berdasarkan
keadaan dan karakteristik daerah wisata, secara umum wisata dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu:
1.
Pariwisata
Alam
Kegiatan pariwisata alam secara garis besar dapat dibedakan antara
wisata perairan atau wisata bahari (berenang, snorkling, menyelam, berlayar, berselancar,
memancing, berkano/berdayung dan lain-lain) dan wisata daratan serta dirgantara
(lintas alam, pendakian gunung, penelusuran goa, berkemah, jalan santai/hiking,
terbang layang).
2.
Pariwisata
Budaya
Hal
ini dimaksudkan dimana motivasi orang-orang untuk melakukan perjalanan
disebabkan karena adanya daya tarik dari seni-budaya suatu tempat atau daerah.
Objek kunjungan wisata ini ialah mengunjungi benda-benda kuno peninggalan nenek
moyang dan mengambil bagian dalam suatu kegiatan kebudayaan tersebut ditempat
yang dikunjunginya.
Berdasarkan letak geografisnya pariwisata
dapat dibagi menjadi:
a)
Pariwisata lokal (Local
Tourism), yaitu pariwisata yang lingkupnya sempit dan terbatas.
b)
Pariwisata Regional (Regional
Tourism), yaitu pariwisata yang ruang lingkupnya lebih luas dari pada
pariwisata lokal.
c)
Pariwisata Nasional (National
Tourism), yaitu pariwisata yang lingkupnya dalam satu negara.
d)
Pariwisata Regional
Internasional (Regional-International Tourism), yaitu kawasan pariwisata
yang berkembang di kawasan internasional yang terbatas tetapi melewati dua
batas atau lebih dalam kawasan tersebut.
e)
Pariwisata Internasional (International
Tourism), yaitu suatu pariwisata yang lingkupnya dunia (Yoeti, 1996:
111-113).
Selain jenis-jenis pariwisata tersebut,
wisata dapat dibedakan menurut maksud dan tujuannya, yaitu :
1.
Wisata
Liburan (Holiday Tour)
Yaitu suatu perjalanan
wisata yang diselenggarakan dan diikuti oleh anggotanya guna berlibur,
bersenang dan menghibur diri.
2.
Wisata
Pengenalan (Familiarization Tour)
Suatu perjalanan wisata
yang dimaksudkan guna mengenal lebih lanjut bidang atau daerah yang mempunyai
kaitan dengan pekerjaannya.
3.
Wisata
Perburuan (Hunting Tour)
Yaitu suatu kunjungan
wisata yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan perburuan binatang yang diijinkan
oleh penguasa atau pemerintah pusat.
4.
Wisata
Pendidikan (Education Tour)
Yaitu suatu perjalanan
yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran, studi perbandingan ataupun
pengetahuan mengenai bidang IPTEK yang dikunjunginya.
5.
Wisata
Pengetahuan (Scientific Tour)
Yaitu suatu perjalanan
wisata yang tujuan pokoknya adalah untuk memperoleh pengetahuan atau
penyelidikan terhadap sesuatu bidang ilmu pengetahuan.
6.
Wisata
Keagamaan (Pileimage Tour)
Yaitu perjalanan yang
dimaksudkan untuk melakukan ibadah keagamaan.
7.
Wisata
Kunjungan Khusus (Special Mission Tour)
Yaitu wisata yang
dilakukan dengan tujuan khusus.
8.
Wisata
Program Khusus (Special Programe Tour)
Yaitu perjalanan wisata
yang dilakukan untuk mengisi kekosongan khusus.
D.
Objek Wisata
Dalam Undang-Undang No.9 tahun 1990 disebutkan bahwa objek wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata.
Kegiatan wisata biasanya merupakan kegiatan yang bisa memberikan respon yang
menyenangkan dan dapat memberikan kepuasan. Oleh
karena itu, suatu objek wisata hendaknya dapat memberikan daya tarik tersendiri
bagi wisatawan, sehingga menimbulkan kesan yang mendalam.
Sedangkan menurut Chafid Fandeli (2001:58), objek wisata
adalah perwujudan dari pada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan
tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisatawan. Sedangkan objek wisata alam adalah objek yang
daya tariknya berdasarkan pada keindahan sumber daya alam dan tata
lingkungannya.
E.
Pengembangan
Pariwisata
Pengembangan potensi
pariwisata mengandung makna upaya untuk lebih meningkatkan sumber daya yang
dimiliki oleh suatu objek wisata dengan cara melakukan pembangunan unsur-unsur
fisik maupun non fisik dari sistem pariwisata sehingga meningkatkan
produktivitas. Dalam hal ini yang dimaksud produktivitas
objek wisata berupa meningkatnya pendapatan daerah yang diperoleh dari
kunjungan wisatawan yang masuk.
Yoeti
(2007:33-34) menyimpulkan
beberapa alasan mengapa bidang pariwisata perlu dikembangkan.Alasan tersebut antara
lain : 1) pengembangan pariwisata pada suatu daerah tujuan wisata, baik secara
lokal, regional atau ruang lingkup nasional pada suatu negara sangat erat
kaitannya dengan pembangunan perekonomian daerah atau negara tersebut; 2) pengembangan
pariwisata itu lebih banyak bersifat non ekonomis, adanya kegiatan
kepariwisataan akan menimbulkan hasrat dan keinginan untuk memelihara semua
aset wisata yang dimaksud; 3) pengembangan pariwisata digunakan untuk
menghilangkan kepicikan berfikir, mengurangi salah pengertian, mengetahui
tingkah laku orang lain terutama bagi masyarakat di mana proyek kepariwisataan
dibangun.
Dalam pengembangan pariwisata perlu diketahui karakteristik
kawasan yang akan diteliti. Untuk memahami karakteristik kawasan perlu dikaji
topik kunci yang meliputi : lokasi, penduduk, lingkungan, tipe ekonomi dan potensi wilayah (Suharyono, 1994:157).
1.
Lokasi
Lokasi dapat dibedakan antara lokasi absolut dan lokasi
relatif. Lokasi absolut suatu tempat atau suatu wilayah merupakan lokasi yang berkenaan
dengan posisinya berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Lokasi relatif yaitu lokasi suatu tempat atau wilayah hubungannya
dengan faktor alam atau faktor budaya.
2.
Penduduk
Penduduk dalam arti luas berarti sejumlah makhluk sejenis yang
mendiami atau menduduki tempat tertentu. Penduduk yang dimaksudkan di
sini adalah manusia yang tinggal di Kecamatan Ranuyoso
Kabupaten Lumajang. Data penduduk yang perlu
diketahui dalam penelitian ini adalah: komposisi penduduk berdasarkan
kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.
3.
Tipe
Ekonomi
Tipe ekonomi merupakan mekanisme yang dikembangkan penduduk suatu
wilayah sebagai sarana untuk mencukupi kebutuhan akan barang dan jasa.
4.
Lingkungan
Alami
Lingkungan diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya
yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lainnya. Lingkungan yang dimaksud disini adalah
lingkungan yang mempengaruhi pengembangan pariwisata yaitu: bentuk lahan,
iklim, flora dan fauna.
5.
Potensi-potensi
Wilayah
Potensi adalah kemampuan yang dimiliki oleh suatu wilayah untuk
dapat berkembang.
Selain itu, dalam pengembangan pariwisata juga diperlukan strategi
pengembangan pariwisata, adapun strategi pengembangan pariwisata bertujuan
untuk mengembangkan produk dan pelayanan yang berkualitas, seimbang dan bertahap. Beberapa kebijakan pengembangan
pariwisata antara lain :
a.
Promosi, pelaksanaan
upaya pemasaran dan promosi pariwisata harus dilaksanakan secara selaras dan
terpadu, baik dalam negeri maupun luar negeri.
b.
Aksesibilitas,
merupakan aspek penting yang mendukung pengembangan pariwisata, karena
menyangkut lintas sektoral, dan kemudahan mencapai kawasan.
c.
Produk
Wisata, upaya untuk menampilkan produk wisata yang bervariasi dan mempunyai
daya saing yang tinggi.
d.
Kawasan
Pariwisata, pengembangan kawasan pariwisata dimaksudkan untuk:
1)
Meningkatkan
peran serta daerah dalam pengembangan pariwisata.
2)
Memperbesar
dampak positif pembangunan.
3)
Mempermudah
pengendalian terhadap dampak lingkungan.
e.
Sumber Daya
Manusia, merupakan salah satu modal dasar pengembangan pariwisata, sumber daya
manusia harus memiliki keahlian dan ketrampilan yang diperlukan untuk memberi
jasa pelayanan pariwisata.
f.
Kampanye
Nasional Sadar Wisata, upaya masyarakat untuk mempromosikan dan memperkenalkan
jati diri dan karakteristik daerah dengan beberapa kelebihannya.
Untuk pengembangan kepariwisataan suatu daerah dikenal dengan
“Sapta Pesona”. Sapta pesona atau yang dikenal dengan istilah K-7 merupakan
tujuh hal yang harus disiapkan untuk menunjang kepariwisatan, tujuh hal
tersebut yaitu: 1) keindahan; 2) kesejukan; 3) kebersihan; 4) kenyamanan; 5)
keamanan; 6) keramahtamahan; 7) ketenangan.
Kegiatan pariwisata juga dikatakan sebagai kegiatan industri,
karena di dalamnya terdapat berbagai aktivitas yang menghasilkan produk berupa
barang dan jasa. Akan tetapi, makna industri dalam kepariwisataan bukan
sebagaimana pengertian industri pada umumnya yaitu adanya pabrik yang penuh
dengan asap. Untuk itu, hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam industri
kepariwisataan adalah adanya sistem yang menyeluruh dan terpadu tanpa pemisahan antara
sistem pengembangan kepariwisataan yang ada.
METODE
PENELITIAN
A.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian merupakan pedoman bagi seseorang
peneliti dalam melaksanakan penelitian agar data dapat dikumpulkan secara efektif
dan efisien serta dapat dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini peneliti akan berusaha sedapat mungkin untuk mendapatkan data
yang akurat dan relevan dengan judul yang diambil.
Penelitian ini
menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Rancangan penelitian kualitatif adalah suatu proses
penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki
suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti
membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari
pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell,
1998:15). Penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk mengkaji atau
membuktikan kebenaran suatu teori, tetapi data yang sudah terkumpul kemudian
dikembangkan, supaya teori tersebut lebih berkembang.
B.
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini ialah berada di wilayah administrasi Kabupaten
Lumajang, dan objek yang hendak diteliti ialah objek wisata Segitiga Danau
(Ranu Klakah, Ranu Pakis, dan Ranu Bedali) Kabupaten Lumajang, pengunjung serta
masyarakat sekitar. Hal ini dilakukan guna mempertanggung jawabkan data yang
diperoleh.
C.
Populasi dan Sampel
Penelitian
1.
Populasi Penelitian
Populasi merupakan keseluruhan gejala atau fenomena
yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wilayah administrasi
Kabupaten Lumajang. Sedangkan untuk melengkapi data
di lapangan tentang faktor-faktor geografi dan daya tarik objek wisata Segitiga Danau Di Kecamatan Ranuyoso dan Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang, peneliti mengambil sample yang terdiri dari:
a)
Pengunjung objek
wisata Segitiga Danau Di Kecamatan Ranuyoso
dan Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang.
b)
Pengelola objek
Segitiga Danau.
c)
Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dan Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang.
d)
Masyarakat
sekitar objek wisata Segitiga Danau.
2.
Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian dari populasi objek penelitian. Sampel dalam penelitian
ini adalah kawasan objek wisata Segitiga
Danau. Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik
area probability sample (sampel wilayah) yaitu teknik sampling yang dilakukan dengan mengambil wakil
dari wilayah dalam populasi (Arikunto, 1998:126).
Sedangkan untuk mendapatkan informasi tambahan
yang dapat menunjang penelitian, maka peneliti mengambil sample yang terkait dengan
penelitian yang dilakukan, sample atau responden tersebut antara lain:
a)
Pengunjung
Pengambilan sampel pengunjung dilakukan pada
hari libur yaitu hari Sabtu dan Minggu. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan
teknik insidental sampling (sampel kebetulan)
yaitu sampel yang cara pengambilannya dilakukan secara
kebetulan dengan tidak menggunakan perencanaan (Rohman, 2005:67). Pengambilan sampel ini dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu yaitu
semua pengunjung objek wisata Segitiga
Danau. Sampel pengunjung digunakan
untuk mengetahui karakteristik wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Segitiga Danau.
b)
Pengelola
Sampel pengelola dalam hal ini meliputi pengelola
objek wisata, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, Kepala Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Lumajang. Serta pihak Kecamatan Ranuyoso
yang menjadi pengawas dalam pengembangan objek
wisata Segitiga Danau.
c) Penduduk
Sampel penduduk digunakan untuk
mengetahui seberapa jauh pengembangan yang telah terjadi danjuga mengetahui tanggapan penduduk sekitar dengan adanya
objek wisata Segitiga Danau.
D.
Variabel Penelitian
Variabel yaitu faktor atau unsur yang ikut menentukan perubahan
dalam penelitian (Poerwadarminto, 1990:116).
Dalam hal ini faktor-faktor geografi
yang berkaitan dengan pengembangan objek wisata Segitiga Danau di Kecamatan Ranuyoso
Kabupaten Lumajang,
sebagai berikut: 1) faktor alam meliputi lokasi, keadaan iklim, keadaan
geologi, keadaan morfologi, kondisi tanah, kondisi air, floradan fauna;
dan 2) faktor sosial dan pengembang meliputi keadaan penduduk, daya tarik,
infrastruktur, fasilitas pelayanan, akomodasi, permodalan, pengelolaan yang ada
di objek wisata Segitiga Danau.
E.
Metode Pengumpulan
Data
Data merupakan faktor yang sangat penting dalam penelitian.
Maksud dari pengumpulan data adalah untuk memperoleh sejumlah informasi atau keterangan yang relevan, akurat danreliabel yang dikumpulkan oleh peneliti (Rohman, 2005:70). Dalam penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan
adalah:
1.
Metode dokumentasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh
data dalam penelitian dari instansi terkait yaitu Dinas Pariwisata dan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (BAPPEDA) serta kantor pengelola objek wisata untuk memperoleh
data jumlah pengunjung, luas objek wisata, infrastruktur kepariwisataan dan fasilitas
pendukung serta peta lokasi dan denah objek wisata. Dalam metode dokumentasi digunakan
kajian pustaka dan kajian peta, kajian pustaka digunakan untuk mengetahui teori-teori
yang berhubungan dengan penelitian, sedangkan kajian peta digunakan untuk mengkaji
faktor-faktor geografi fisik yang berkaitan dengan penelitian.
2.
Metode Observasi
Metode ini digunakan dengan cara pengamatan
secara langsung terhadap objek untuk memperoleh gambaran nyata sebagai bahan perbandingan
hasil metode angket terutama mengenai kondisi infrastruktur kepariwisataan dan fasilitas
pelayanan yang tersedia di objek wisata serta hasil metode dokumentasi selain itu
metode ini juga digunakan untuk mengetahui kondisi iklim, geologi, tanah,
morfologi dan kondisi hidrologi di daerah penelitian.
3.
Metode Angket
Metode ini digunakan dengan cara memberikan
angket kepada pengunjung secara langsung. Item yang digunakan dalam pertanyaan ini
berupa isian dan pilihan untuk mendapatkan data tentang daya tarik wisata, fasilitas,
akomodasi, infrastruktur, aksesibilitas dan faktor geografis yang menunjang perkembangan
objek wisata Segitiga Danau.
4.
Metode Wawancara
Metode Wawancara digunakan untuk melengkapi
data yang diperoleh melalui angket. Metode ini bertujuan untuk memperoleh informasi
secara langsung dari instansi yang terkait tentang faktor-faktor geografis yang
mendukung dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau, informasi tentang
program pembangunan objek wisata Segitiga Danau, informasi tentang kondisi objek
wisata baik fisik maupun sosial dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan
objek wisata tersebut.
F.
Analisis
Data
Setelah melakukan penggalian data di
lapangan selanjutnya dilakukan analisis data. Dalam analisis data penulis menggunakan
analisis deskriptif kualitatif dan analisis SWOT.
1.
Analisis Deskriptif
Kualitatif
Analisis deskriptif kualitatif yaitu pengolahan
data dengan melakukan proses mengatur, mengurutkan data yang terkumpul yang
terdiri dari catatan-catatan lapangan, baik melalui wawancara, observasi,
dokumentasi dan angket. Data tersebut diatur dan diurutkan sesuai kebutuhan peneliti,
sehingga informasi kualitatif tersebut disusun atas pikiran,
intuisi, pendapat dan kriteria tertentu. Dengan melakukan proses analisis tersebut, maka
data yang diperoleh akan memberikan gambaran secara nyata tentang aspek-aspek yang menjadi fokus penelitian
yang kemudian akan memberikan jawaban atas masalah yang sedang diteliti sehingga
data tersebut dapat dianalisis dengan menginterpretasikan kedalam suatu urutan dasar
berupa suatu kesimpulan dan saran.
2.
Analisis
SWOT
Metode ini digunakan untuk mengetahui metode
strategi pengembangan melalui analisis SWOT dengan cara menganalisis
faktor-faktor eksternal (peluang dan ancaman) dan faktor-faktor internal
(kekuatan dan kelemahan) dengan matriks EFE dan IFE. Matriks External Factor
Evaluation (EFE) digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang berupa
peluang dan ancaman yang dihadapi. Data faktor eksternal dicari untuk
menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan persoalan ekonomi, budaya, sosial,
lingkungan, demografi, politik, hukum, pemerintahan, teknologi, dan persaingan
pasar. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) digunakan untuk
menganalisis faktor-faktor yang berupa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Data faktor
internal dicari untuk menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan beberapa
fungsional perusahaan, misalnya dari aspek manajemen, keuangan, sumber daya
manusia, pemasaran, sistem informasi, dan produksi.
a.
Matrik
Faktor Strategi Eksternal
Sebelum
membuat matrik faktor strategi eksternal, kita perlu mengetahui terlebih dahulu
faktor strategi eksternal (EFE). Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor
Strategi Eksternal (EFE) :
1) Susunlah dalam kolom
1 daftar faktor-faktor utama yang mempunyai dampak penting pada kesuksesan atau
kegagalan usaha yang terdiri berbagai peluang (opportunities) dan
ancaman(threats).
2) Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Jumlah
seluruh bobot harus sebesar 1,0. Nilai bobot dicari dan dihitung berdasarkan
rata-rata industrinya. Nilai bobot yang ditentukan adalah :
-
0,20 atau 20% : Kuat atau tinggi
-
0,15 atau 15% : Diatas rata-rata
-
0,10 atau 10% : Rata-rata
-
0,05 atau 5% : Dibawah rata-rata
-
0,00 atau 0% : Tidak terpengaruh.
3) Hitung rating (dalam
kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4
(sangat kuat) sampai dengan 1 (sangat lemah) berdasarkan pengaruh faktor
tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Pemberian nilai rating
untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating
+4, tetapi jika peluangnya kecil, diberi rating +1). Pemberian nilai rating
ancaman adalah kebalikannya. Misalnya jika nilai ancamannya sangat besar,
ratingnya adalah 1. Sebaliknya, jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4.
Rating ditentukan berdasarkan efektivitas strategi objek wisata Segitiga Danau.
Dengan demikian, nilainya didasarkan pada kondisi objek wisata tersebut.
4) Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3,
untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor
pembobotan untuk masing-masing faktor.
5) Gunakan kolom 5 untuk memberikan komentar atau catatan
mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotannya
dihitung.
6) Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh
total skor pembobotan bagi objek wisata yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan
bagaimana objek wisata tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis
eksternalnya. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan objek wisata
lainnya dalam kelompok industri yang sama.
TABEL 3.1 MATRIKS
EXTERNAL FAKTOR EVALUATION (EFE)
Faktor-faktor Strategi
Eksternal
|
4
|
3
|
2
|
1
|
Peluang
- Sektor Pariwisata yang semakin berkembang dan
semakin diminati.
- Menyerap tenaga kerja di daerah sekitar objek
wisata yang dapat mengurangi pengangguran.
- Melestarikan budaya
- Teknologi yang semakin berkembang
- Omongan atau opini positif dari wisatawan ke
orang lain.
|
||||
Ancaman
- Persaingan pariwisata antar objek wisata
- Terjadinya bencana/gangguan alam
- Kondisi Jalan yang rusak
- Kurangnya alat transportasi umum
- Kurangnya dukungan Pemerintah Daerah (dalam
promosi dan sarana-prasarana)
|
Keterangan :
Rating 4 = Respon perusahaan superior
Rating 3 = Respon perusahaan di atas rata-rata
Rating 2 = Respon perusahaan rata-rata
Rating 1 = Respon perusahaan jelek
b.
Matrik Faktor Strategi Internal
Setelah
faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi, suatu tabel
IFAS disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam
kerangka kekuatan dan kelemahan perusahaan. Tahapnya adalah :
1) Susunlah dalam kolom 1 yang terdiri dari faktor-faktor
yang menjadi kekuatan serta kelemahan objek wisata.
2) Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2.
Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor
strategis. (Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total
1,00)
3) Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor
dengan memberikan skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (sangat
lemah) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi objek wisata yang
bersangkutan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk
kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik)
dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama.
Sedangkan variabel yang bersifat negatif, kebalikannya. Contohnya, jika
kelemahan objek wisata besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri,
nilainya adalah 1, sedangkan jika kelemahan objek wisata di bawah rata-rata
industri, nilainya adalah 4. Rating mengacu pada kondisi objek wisata Segitiga
Danau, sedangkan bobot mengacu pada industri pariwisata di mana objek wisata Segitiga
Danau berada.
4) Kalikan
bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh faktor
pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing
faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4 sampai dengan 1.
5) Gunakan
kolom 5 untuk memberikan komentar atau catatan mengapa faktor-faktor tertentu
dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung.
6) Jumlahkan
skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi
objek wisata yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana objek
wisata tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya. Total
skor ini dapat digunakan untuk membandingkan objek wisata lainnya dalam
kelompok industri yang sama.
TABEL 3.2 MATRIKS INTERNAL FACTOR EVALUATION (IFE)
Faktor-faktor Strategi
Internal
|
4
|
3
|
2
|
1
|
Kekuatan
- Pemandangan alam yang indah, berhawa sejuk dan
masih asri.
- Objek Wisata yang unik dan menarik dengan
joglo-joglonya.
- Keramahan masyarakat sekitar
- Merupakan paket wisata yang lengkap dengan
beberapa pilihan fasilitas
|
||||
Kelemahan
- Kurang atraksi wisata seperti pergelaran
kesenian
- Promosi belum maksimal
- Kurangnya toko souvenir
- SDM rendah kualitasnya
|
Keterangan :
Rating 4 = Kekuatan utama (sangat kuat)
Rating 3 = Kekuatan minor (kuat)
Rating 2 = Kelemahan minor (lemah)
Rating
1= Kelemahan utama (sangat lemah)
c.
MATRIKS SWOT
Menurut
Freddy Rangkuti (2005), alat analisis yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor
strategis perusahaan adalah matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara
jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat
disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrik ini dapat
menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis.
TABEL 3.3 MATRIKS SWOT
EFE
|
STRENGTHS(S)
Tentukan
5-10 faktor-faktor kekuatan internal
|
WEAKNESSES(W)
Tentukan
5-10 faktor-faktor kelemahan internal
|
OPPORTUNITIES(O)
Tentukan
5-10 faktor peluang eksternal
|
STRATEGI
SO
Ciptakan
strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
|
STRATEGI
WO
Ciptakan
strategi yang menggunakan kekuatan untuk meminimalkan kelemahan untuk meraih
peluang.
|
TREATHS(T)
Tentukan
5-10 faktor ancaman eksternal
|
STRATEGI
ST
Ciptakan
strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
|
STRATEGI
WT
Ciptakan
strategi yang meminimalkan kelemahan untuk menghindari ancaman
|
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar