Rabu, 29 Oktober 2014

ANALISIS PENGEMBANGAN WILAYAH OBJEK WISATA SEGITIGA DANAU DI KABUPATEN LUMAJANG

BAB I
 PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pembangunan Nasional merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global.
Dalam pelaksananan Pembangunan Nasional harus mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang menyeluruh untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, dan kukuh kekuatan moral dan etikanya (GBHN 1999-2000).
Di era globalisasi seperti sekarang ini, pembangunan dunia pariwisata dapat dijadikan sebagai prioritas utama dalam menunjang pembangunan suatu daerah. Pengembangan pariwisata dilakukan bukan hanya untuk kepentingan wisatawan mancanegara saja, namun juga untuk  menggalakkan kepentingan wisatawan dalam negeri. Pembangunan kepariwisataan pada hakikatnya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata yang berupa kekayaan alam yang indah, keragaman flora dan fauna, seni budaya, peninggalan sejarah, benda-benda purbakala serta kemajemukan budaya.
Dalam rangka mencapai tujuan pengembangan pariwisata, pembangunan pariwisata harus diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam. Semakin besar sumber daya alam yang dimiliki suatu negara, maka semakin besar pula harapan untuk mencapai tujuan pembangunan dan pengembangan pariwisata.
Tujuan pengembangan pariwisata akan berhasil dengan optimal bila ditunjang oleh potensi daerah yang berupa objek wisata alam maupun objek wisata buatan manusia. Yoeti (1996:5) mengatakan bahwa pembangunan dan pengembangan daerah menjadi daerah tujuan wisata tergantung dari daya tarik itu sendiri yang dapat berupa keindahan alam, tempat bersejarah, tata cara hidup bermasyarakat maupun upacara keagamaan.
Dari uraian tersebut, sektor kepariwisataan  perlu mendapat penanganan yang serius karena kepariwisataan merupakan kegiatan lintas sektoral dan lintas wilayah yang saling terkait, diantaranya dengan sektor industri, perdagangan, pertanian, perhubungan, kebudayaan, sosial-ekonomi, politik, keamanan serta lingkungan.
Dalam pengembangan suatu tempat wisata dibutuhkan beberapa faktor-faktor yang menunjang kesempurnaan tempat wisata, “Faktor-faktor itu terkait dengan 5 unsur pokok pengembangan daerah tujuan wisata adalah daya tarik wisata, prasarana, sarana, tatalaksana, dan masyarakat lingkungan (Suwantoro dalam Purnomo, 2012 :2).
Dalam menjalankan perannya, industri pariwisata harus menerapkan konsep dan peraturan serta panduan yang berlaku dalam pengembangan pariwisata agar mampu mempertahankan dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang nantinya bermuara pada pemberian manfaat ekonomi bagi industri pariwisata dan masyarakat lokal.
Disamping perlunya pula peningkatan promosi dan pemasaran pariwisata serta peningkatan pendidikan dan pelatihan pariwisata, penyediaan sarana-prasarana mutu dan kelancaran pelayanan penyelenggaraan pariwisata. Pengembangan pariwisata adalah upaya untuk meningkatkan sumber daya yang dimiliki oleh suatu objek wisata dengan cara melakukan pembangunan dari berbagai unsur, baik unsur alam atau buatan manusia dari sistem pembangunan pariwisata sehinggga meningkatkan produktifitas objek wisata. Dalam hal ini yang dimaksud dengan produktifitas objek wisata berupa meningkatnya pendapatan daerah yang diperoleh dari kunjungan wisatawan yang masuk. Pengembangan pariwisata dalam penelitian ini adalah tentang upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini pemerintah Kabupaten Lumajang untuk mengembangkan pariwisata.
Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, Kabupaten Lumajang memiliki aset wisata yang cukup beragam yang dapat memenuhi segala kebutuhan kepariwisataan jika aset tersebut dimanfaatkan secara optimal. Salah satu potensi wisata yang belum berkembang dan merupakan objek wisata yang potensial untuk dikunjungi adalah objek wisata Segitiga Danau yang terletak di Kecamatan Klakah dan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang.
Objek wisata Segitiga Danau merupakan objek wisata dengan latar belakang kondisi alam yang sangat indah yang terletak di lereng pegunungan Lamongan. Objek wisata ini mempunyai daya tarik tersendiri yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung. Hal tersebut dikarenakan objek wisata ini tidak hanya menyajikan potensi berupa Danau saja, tetapi juga didukung oleh potensi yang lain seperti areal bermain untuk anak-anak, air terjun, kolam renang, tambak ikan, serta pemandangan yang indah dan udara pegunungan yang sejuk.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan penulis tertarik untuk meneliti tentang kondisi objek wisata tersebut dan pengembangan objek tersebut dari sudut pandang geografis dengan mengambil judul Analisis Pengembangan Objek Wisata Segitiga Danau Di Kabupaten Lumajang.
B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dijelaskan, penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.    Faktor-faktor geografi apa sajakah yang dapat mendukung pengembangan objek wisata Segitiga Danau di Kabupaten Lumajang?
2.    Bagaimana usaha yang dilakukan untuk pengembangan wisata Segitiga Danau di Kabupaten Lumajang?
3.    Potensi-potensi alam apa sajakah yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik tambahan di dalam kawasan objek wisata Segitiga Danau di Kabupaten Lumajang?
4.    Bagaimanakah kontribusi obyek wisata Segitiga Danau di Kabupaten Lumajang terhadap warga sekitar obyek wisata?
C.      Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal sebagi berikut :
1.    Mengetahui faktor-faktor geografi yang mendukung dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau.
2.    Mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Lumajang dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau.
3.    Mengidentifikasi potensi-potensi alam yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik tambahan di dalam kawasan objek wisata Segitiga Danau.
4.    Untuk mengetahui kontribusi obyek wisata Segitiga Danau terhadap warga sekitar obyek wisata.
D.      Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara praktis maupun secara teoritis.
1.    Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah, khususnya bagi Dinas Pariwisata dalam mengembangkan objek pariwisata dan menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menyangkut kepariwisataan dengan tetap memperhatikan faktor-faktor geografi.
2.    Manfaat secara teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan ilmu geografi, khususnya untuk pengembangan geografi kepariwisataan.
E.       Definisi Operasional
Sesuai dengan judul yang penulis angkat dalam skripsi ini, maka definisi operasionalnya ialah sebagai berikut :

1.    Industri pariwisata
            Industri pariwisata, adalah kumpulan dari macam-macam perusahaan yang secara bersamaan menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa (goods and service) yang dibutuhkan wisatawan pada khususnya dan traveller pada umumnya, selama dalam perjalanannya.
2 . Pariwisata
Pariwisata adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait dibidang tersebut. Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, ilmu dan agama.
3. Pengembangan

Usaha atau tindakan secara bertahap yang bertujuan untuk menjadikan sesuatu menjadi lebih baik dan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki dan direncanakan. Dalam hal ini mengandung pengertian usaha atau tindakan dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau agar  berkembang sesuai dengan yang direncanakan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.      Pengertian Geografi
Pengertian geografi menurut hasil Semlok di Semarang tahun 1988 adalah geografi merupakan ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan. Menurut Bintarto (1991) ruang lingkup geografi dibagi menjadi: 1) lingkup fisikal yang meliputi aspek topologi, aspek fisik, aspek biotis; dan 2) lingkup non fisikal yang meliputi aspek sosial, aspek ekonomi, aspek budaya.
Daldjoeni (2004:22) menyebutkan bahwa geografi mempunyai empat unsur sebagai berikut: 1) unsur fisik yang meliputi pantai, cuaca, iklim, relief, tanah, mineral, air, jalan; 2) unsur biotis yang meliputi tumbuhan, hewan, manusia,mikro organisme; 3) unsur teknis yang meliputi jaringan jalan, alat komunikasi, alat transportasi, perhotelan, rumah makan, pergudangan; dan 4) unsur abstrak yang meliputi bentuk, luas, lokasi, jarak, waktu.

Dari ruang lingkup geografi tersebut sebenarnya telah disebutkan faktor-faktor geografis, yaitu jenis-jenis di dalam faktor alam yang mempunyai pertalian langsung atau tidak langsung dengan kehidupan manusia dalam arti memberikan fasilitas kepadanya untuk menghuni permukaan bumi sebagai wilayah.
Daldjoeni (2004: 24) menyimpulkan bahwa faktor-faktor geografi fisik disuatu daerah yang mempengaruhi kehidupan adalah:
1.    Lokasi, lokasi suatu tempat dalam suatu wilayah adalah penting juga untuk relasi keruangan yang lain seperti posisi, jarak, luas, serta bentuk. iklim, menentukan hasil pertanian, daerah tropika yang baik untuk berbagai macam perkebunan menjadi rebutan kaum penjajah dimasa lampau, iklim ikut menentukan tata kerja sepanjang tahun.
2.    Bentuk relief, mempengaruhi pelaksanaan pengangkutan, perbedaan relief yang menonjol juga akan menyebabkan perbedaan suhu tahunan, keindahan tamasya dan pembuangan air (rawa, danau dan bendungan).
3.    Tipe tanah menentukan kesuburan wilayah, tanah berkapur melahirkan daerah dengan penduduk miskin dan kurang gizi. Tanah yang subur  mendasari kepadatan penduduk yang membawa berbagai masalah pula.
4.    Kontak dengan lautan yang penting.
5.    Jenis flora fauna, mempengaruhi kegiatan perekonomian manusia.
6.    Kondisi air menentukan dapat tidaknya wilayah dihuni dengan baik sehingga merupakan kunci bagi lahirnya peradaban manusia.
7.    Sumber-sumber mineral mempengaruhi dan mendorong perdagangan.

Menurut Bintarto dan Surostopo Hadisumarno (1991:12) dalam bukunya “Metode Analisis Geografi”, mereka menyebutkan tiga pendekatan atau analisis yang di gunakan dalam mempelajari geografi yaitu: 1) pendekatan keruangan; 2) pendekatan kompleks wilayah; dan 3) pendekatan ekologi.
a)    Pendekatan Keruangan
Pendekatan keruangan   atau analisis keruangan mempelajari perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting atau seri sifat-sifat penting. Dengan kata lain dapat diutarakan bahwa dalam analisis keruangan yang harus diperhatikan adalah penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan penyediaan ruang yang akan digunakan untuk berbagai kegunaan yang dirancangkan.
b)   Pendekatan Kompleks Wilayah
Kombinasi antara analisis keruangan dan analis ekologi merupakan analisis kompleks wilayah. Pada analisis ini wilayah-wilayah tertentu didekati atau dihampiri dengan pengertian areal differentiation, yaitu suatu anggapan bahwa interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada hakekatnya suatu wilayah berbeda dengan wilayah yang lain. Dalam pendekatan ini perlu diperhatikan pula mengenai penyebaran fenomena tertentu (analisis keruangan) dan interaksi antar variabel manusia dengan lingkungannya untuk kemudian dipelajari kaitannya (analisis ekologi).
c)    Pendekatan  Ekologi
Ekologi  merupakan studi mengenai hubungan antara organisme hidup dengan lingkungannya. Pendekatan ekologi dapat digambarkan sebagai hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannnya.
Pendekatan ekologi yang dipakai dalam kajian geografi  berbeda dengan pendekatan ekologi yang dipakai dalam kajian ilmu biologi, hal ini karena fokus kajian geografi bersifat human oriented, dengan demikian interelasi antara manusia/kegiatan dengan lingkungannya menjadi topik utama dalam ilmu geografi. Berdasarkan inventarisasi penelitian yang ada dapat dipahami bahwa pendekatan ekologi dalam geografi mempunyai empat tema analisis yaitu:
1)   Human Behaviour-Environment Analysis
Temaanalisis ini mempunyai fokus kajian pada perilaku manusia terhadap lingkungannya.
2)   Phsyco Artificial Features-Environment Analysis
Tema analisis ini menekankan pada lingkungan fisikal yang terjadi sebagai akibat dari aktivitas manusia (hasil budaya manusia) dengan lingkungannya.Dinamika yang terdapat dalam lingkungan sosial dapat menimbulkan perubahan gagasan manusia sehingga dapat menimbulkan penyesuaian dan pembaharuan sikap dan tindakan terhadap lingkungan tempat manusia itu hidup.
3)   Human Activity-Environment Analysis
Tema analisis ini fokus kajiannya terletak pada kegiatan manusia hubungannya dengan lingkungan sekitar kehidupan manusia.
4)   Phsyco Natural Features-Environment Analysis
Tema analisis ini menekankan pada keterkaitan antara kenampakan-kenampakan fisikal alami dengan elemen-elemen lingkungnnya.
Di sisi lain lingkungan fisikal tempat manusia tinggal dapat mengalami perubahan bentuk dan fungsi yang disebabkan oleh campur tangan manusia (Sabari, 2004:9).
B.       Pengertian Pariwisata
Pariwisata berarti kegiatan perjalanan seseorang atau serombongan orang dari tempat tinggal asalnya ke suatu tempat di kota lain atau di negara lain dalam jangka waktu tertentu (Karyono, 1997:15).
Istilah pariwisata berhubungan erat dengan pengertian perjalanan wisata, yaitu suatu perubahan tempat tinggal sementara seseorang diluar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan upah (Wiwoho, 1993:24).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perjalanan wisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan oleh seorang atau lebih dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kenikmatan dan memenuhi hasrat ingin mengetahui sesuatu. Dapat juga karena kepentingan yang berhubungan dengan olah raga untuk kesehatan, konfensi, keagamaan, dan keperluan usaha yang lainnya.
Menurut A.J. Burkart dan S. Medlik (2007:15), pariwisata berarti perpindahan orang untuk sementara (dan) dalam jangka waktu pendek ke tujuan-tujuan di luar tempat dimana mereka biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal ditempat-tempat tujuan tersebut (Soekadijo dalam Kurniawan 2011:7).
Menurut Prof. Hunzieker dan Prof. K. Krapf, pariwisata dapat didefinisikan sebagai keseluruhan jaringan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang asing disuatu tempat, dengan syarat bahwa mereka tidak tinggal disitu untuk melakukan suatu pekerjaan yang penting yang memberikan keuntungan yang bersifat permanen maupun sementara (Soekadijo dalam Kurniawan, 2011:8)

Kegiatan kepariwisataan merupakan kegiatan yang melibatkan berbagai kepentingan (multi sektoral) dan erat hubungannya dengan perkembangan ekonomi global. Disamping itu kepariwisataan merupakan kegiatan yang mengandalkan pemanfaatan potensi sumber daya alam binaan yang ada pada masing-masing objek dan daya tarik wisata dengan tetap berpedoman pada keseimbangan dan pelestarian (tanpa merusak potensi alam yang dimiliki) seperti yang tercantum dalam UU No. 9 Tahun 1990 tentang kepariwisataan.
Beberapa istilah yang berhubungan dengan kepariwisataan antara lain :
1.    Wisata adalah kegiatan perjalanan yang bersifat sementara waktu untuk menikmati objek atau daya tarik wisata.
2.    Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata
3.    Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.
4.    Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata serta usaha lain yang terkait dengan bidang tersebut.
5.    Objek dan daya tarik wisata adalah sesuatu yang menjadi sasaran wisata.
6.    Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan objek dan daya tarik wisata.
7.    Kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang di bangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.

Dari uraian tersebut dapat kita ambil beberapa unsur yang terkandung dalam kepariwisataan, antara lain :
a)    Perjalanan itu dilakukan untuk sementara waktu.
b)   Perjalanan itu dilakukan dari tempat satu ke tempat lainnya.
c)    Perjalanan itu walau apapun bentuknya, harus selalu dikaitkan dengan pertamasyaan atau rekreasi.
d)   Orang yang melakukan perjalanan tidak mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya dan semata-mata sebagai konsumen di tempat tersebut.
C.      Bentuk dan Jenis Pariwisata
Pariwisata  merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun kelompok di dalam wilayah negara sendiri atau di negara lain. Berdasarkan keadaan dan karakteristik daerah wisata, secara umum wisata dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1.    Pariwisata Alam
Kegiatan pariwisata alam secara garis besar dapat dibedakan antara wisata perairan atau wisata bahari (berenang, snorkling, menyelam, berlayar, berselancar, memancing, berkano/berdayung dan lain-lain) dan wisata daratan serta dirgantara (lintas alam, pendakian gunung, penelusuran goa, berkemah, jalan santai/hiking, terbang layang).
2.    Pariwisata Budaya
Hal ini dimaksudkan dimana motivasi orang-orang untuk melakukan perjalanan disebabkan karena adanya daya tarik dari seni-budaya suatu tempat atau daerah. Objek kunjungan wisata ini ialah mengunjungi benda-benda kuno peninggalan nenek moyang dan mengambil bagian dalam suatu kegiatan kebudayaan tersebut ditempat yang dikunjunginya.
Berdasarkan letak geografisnya pariwisata dapat dibagi menjadi:
a)    Pariwisata lokal (Local Tourism), yaitu pariwisata yang lingkupnya sempit dan terbatas.
b)   Pariwisata Regional (Regional Tourism), yaitu pariwisata yang ruang lingkupnya lebih luas dari pada pariwisata lokal.
c)    Pariwisata Nasional (National Tourism), yaitu pariwisata yang lingkupnya dalam satu negara.
d)   Pariwisata Regional Internasional (Regional-International Tourism), yaitu kawasan pariwisata yang berkembang di kawasan internasional yang terbatas tetapi melewati dua batas atau lebih dalam kawasan tersebut.
e)    Pariwisata Internasional (International Tourism), yaitu suatu pariwisata yang lingkupnya dunia (Yoeti, 1996: 111-113).

Selain jenis-jenis pariwisata tersebut, wisata dapat dibedakan menurut maksud dan tujuannya, yaitu :
1.    Wisata Liburan (Holiday Tour)
Yaitu suatu perjalanan wisata yang diselenggarakan dan diikuti oleh anggotanya guna berlibur, bersenang dan menghibur diri.
2.    Wisata Pengenalan (Familiarization Tour)
Suatu perjalanan wisata yang dimaksudkan guna mengenal lebih lanjut bidang atau daerah yang mempunyai kaitan dengan pekerjaannya.
3.    Wisata Perburuan (Hunting Tour)
Yaitu suatu kunjungan wisata yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan perburuan binatang yang diijinkan oleh penguasa atau pemerintah pusat.
4.    Wisata Pendidikan (Education Tour)
Yaitu suatu perjalanan yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran, studi perbandingan ataupun pengetahuan mengenai bidang IPTEK yang dikunjunginya.
5.    Wisata Pengetahuan (Scientific Tour)
Yaitu suatu perjalanan wisata yang tujuan pokoknya adalah untuk memperoleh pengetahuan atau penyelidikan terhadap sesuatu bidang ilmu pengetahuan.
6.    Wisata Keagamaan (Pileimage Tour)
Yaitu perjalanan yang dimaksudkan untuk melakukan ibadah keagamaan.
7.    Wisata Kunjungan Khusus (Special Mission Tour)
Yaitu wisata yang dilakukan dengan tujuan khusus.
8.    Wisata Program Khusus (Special Programe Tour)
Yaitu perjalanan wisata yang dilakukan untuk mengisi kekosongan khusus.
D.      Objek Wisata
Dalam Undang-Undang No.9 tahun 1990 disebutkan bahwa objek wisata adalah  segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Kegiatan wisata biasanya merupakan kegiatan yang bisa memberikan respon yang menyenangkan dan dapat memberikan kepuasan. Oleh karena itu, suatu objek wisata hendaknya dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, sehingga menimbulkan kesan yang mendalam.
Sedangkan menurut Chafid Fandeli (2001:58), objek wisata adalah perwujudan dari pada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi wisatawan. Sedangkan objek wisata alam adalah objek yang daya tariknya berdasarkan pada keindahan sumber daya alam dan tata lingkungannya.
E.       Pengembangan Pariwisata
Pengembangan potensi pariwisata mengandung makna upaya untuk lebih meningkatkan sumber daya yang dimiliki oleh suatu objek wisata dengan cara melakukan pembangunan unsur-unsur fisik maupun non fisik dari sistem pariwisata sehingga meningkatkan produktivitas. Dalam hal ini yang dimaksud produktivitas objek wisata berupa meningkatnya pendapatan daerah yang diperoleh dari kunjungan wisatawan yang masuk.
Yoeti (2007:33-34) menyimpulkan beberapa alasan mengapa bidang pariwisata perlu dikembangkan.Alasan tersebut antara lain : 1) pengembangan pariwisata pada suatu daerah tujuan wisata, baik secara lokal, regional atau ruang lingkup nasional pada suatu negara sangat erat kaitannya dengan pembangunan perekonomian daerah atau negara tersebut; 2) pengembangan pariwisata itu lebih banyak bersifat non ekonomis, adanya kegiatan kepariwisataan akan menimbulkan hasrat dan keinginan untuk memelihara semua aset wisata yang dimaksud; 3) pengembangan pariwisata digunakan untuk menghilangkan kepicikan berfikir, mengurangi salah pengertian, mengetahui tingkah laku orang lain terutama bagi masyarakat di mana proyek kepariwisataan dibangun.

Dalam pengembangan pariwisata perlu diketahui karakteristik kawasan yang akan diteliti. Untuk memahami karakteristik kawasan perlu dikaji topik kunci yang meliputi : lokasi, penduduk, lingkungan, tipe ekonomi dan  potensi wilayah (Suharyono, 1994:157).
1.    Lokasi
Lokasi dapat dibedakan antara lokasi absolut dan lokasi relatif. Lokasi absolut suatu tempat atau suatu wilayah merupakan lokasi yang berkenaan dengan posisinya berdasarkan garis lintang dan garis bujur. Lokasi relatif yaitu lokasi suatu tempat atau wilayah hubungannya dengan faktor alam atau faktor budaya.
2.    Penduduk
Penduduk dalam arti luas berarti sejumlah makhluk sejenis yang mendiami atau menduduki tempat tertentu. Penduduk yang dimaksudkan di sini adalah manusia yang tinggal di Kecamatan Ranuyoso Kabupaten Lumajang. Data penduduk yang perlu  diketahui dalam penelitian ini adalah: komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan.
3.    Tipe Ekonomi
Tipe ekonomi merupakan mekanisme yang dikembangkan penduduk suatu wilayah sebagai sarana untuk mencukupi kebutuhan akan barang dan jasa.
4.    Lingkungan Alami
Lingkungan diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan yang mempengaruhi pengembangan pariwisata yaitu: bentuk lahan, iklim, flora dan fauna.
5.    Potensi-potensi Wilayah
Potensi adalah kemampuan yang dimiliki oleh suatu wilayah untuk dapat berkembang.
Selain itu, dalam pengembangan pariwisata juga diperlukan strategi pengembangan pariwisata, adapun strategi pengembangan pariwisata bertujuan untuk mengembangkan produk dan pelayanan yang berkualitas, seimbang  dan bertahap. Beberapa kebijakan pengembangan pariwisata antara lain :
a.    Promosi, pelaksanaan upaya pemasaran dan promosi pariwisata harus dilaksanakan secara selaras dan terpadu, baik dalam negeri maupun luar negeri.
b.    Aksesibilitas, merupakan aspek penting yang mendukung pengembangan pariwisata, karena menyangkut lintas sektoral, dan kemudahan mencapai kawasan.
c.    Produk Wisata, upaya untuk menampilkan produk wisata yang bervariasi dan mempunyai daya saing yang tinggi.
d.   Kawasan Pariwisata, pengembangan kawasan pariwisata dimaksudkan untuk:
1)   Meningkatkan peran serta daerah dalam pengembangan pariwisata.
2)   Memperbesar dampak positif pembangunan.
3)   Mempermudah pengendalian terhadap dampak lingkungan.
e.    Sumber Daya Manusia, merupakan salah satu modal dasar pengembangan pariwisata, sumber daya manusia harus memiliki keahlian dan ketrampilan yang diperlukan untuk memberi jasa pelayanan pariwisata.
f.     Kampanye Nasional Sadar Wisata, upaya masyarakat untuk mempromosikan dan memperkenalkan jati diri dan karakteristik daerah dengan beberapa kelebihannya.
Untuk pengembangan kepariwisataan suatu daerah dikenal dengan “Sapta Pesona”. Sapta pesona atau yang dikenal dengan istilah K-7 merupakan tujuh hal yang harus disiapkan untuk menunjang kepariwisatan, tujuh hal tersebut yaitu: 1) keindahan; 2) kesejukan; 3) kebersihan; 4) kenyamanan; 5) keamanan; 6) keramahtamahan; 7) ketenangan.
Kegiatan pariwisata juga dikatakan sebagai kegiatan industri, karena di dalamnya terdapat berbagai aktivitas yang menghasilkan produk berupa barang dan jasa. Akan tetapi, makna industri dalam kepariwisataan bukan sebagaimana pengertian industri pada umumnya yaitu adanya pabrik yang penuh dengan asap. Untuk itu, hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam industri kepariwisataan adalah adanya sistem yang menyeluruh dan terpadu tanpa pemisahan antara sistem pengembangan kepariwisataan yang ada.
BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian merupakan pedoman bagi seseorang peneliti dalam melaksanakan penelitian agar data dapat dikumpulkan secara efektif dan efisien serta dapat dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini peneliti akan berusaha sedapat mungkin untuk mendapatkan data yang akurat dan relevan dengan judul yang diambil.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Rancangan penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk mengkaji atau membuktikan kebenaran suatu teori, tetapi data yang sudah terkumpul kemudian dikembangkan, supaya teori tersebut lebih berkembang.
B.       Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini ialah berada di wilayah administrasi Kabupaten Lumajang, dan objek yang hendak diteliti ialah objek wisata Segitiga Danau (Ranu Klakah, Ranu Pakis, dan Ranu Bedali) Kabupaten Lumajang, pengunjung serta masyarakat sekitar. Hal ini dilakukan guna mempertanggung jawabkan data yang diperoleh.
C.      Populasi dan Sampel Penelitian
1.      Populasi Penelitian
Populasi merupakan keseluruhan gejala atau fenomena yang akan diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wilayah administrasi Kabupaten Lumajang. Sedangkan untuk melengkapi data di lapangan tentang faktor-faktor geografi dan daya tarik objek wisata Segitiga Danau Di Kecamatan Ranuyoso dan Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang, peneliti mengambil sample yang terdiri dari:
a)    Pengunjung objek wisata Segitiga Danau Di Kecamatan Ranuyoso dan Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang.
b)    Pengelola objek Segitiga Danau.
c)    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dan Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang.
d)   Masyarakat sekitar objek wisata Segitiga Danau.
2.      Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian dari populasi objek penelitian. Sampel dalam penelitian ini adalah kawasan objek wisata Segitiga Danau. Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik area probability sample (sampel wilayah) yaitu teknik sampling yang dilakukan dengan mengambil wakil dari wilayah dalam populasi (Arikunto, 1998:126).

Sedangkan untuk mendapatkan informasi tambahan yang dapat menunjang penelitian, maka peneliti mengambil sample yang terkait dengan penelitian yang dilakukan, sample atau responden tersebut antara lain:

a)    Pengunjung
Pengambilan sampel pengunjung dilakukan pada hari libur yaitu hari Sabtu dan Minggu. Pengambilan sampel ini dilakukan dengan teknik insidental sampling (sampel kebetulan) yaitu sampel yang cara pengambilannya dilakukan secara kebetulan dengan tidak menggunakan perencanaan (Rohman, 2005:67). Pengambilan sampel ini dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu yaitu semua pengunjung objek wisata Segitiga Danau. Sampel pengunjung digunakan untuk mengetahui karakteristik wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Segitiga Danau.
b)   Pengelola
Sampel pengelola dalam hal ini meliputi pengelola objek wisata, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Lumajang. Serta pihak Kecamatan Ranuyoso yang menjadi pengawas dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau.
c)    Penduduk
Sampel penduduk digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pengembangan yang telah terjadi danjuga mengetahui tanggapan penduduk sekitar dengan adanya objek wisata Segitiga Danau.
D.      Variabel Penelitian
Variabel yaitu faktor atau unsur yang ikut menentukan perubahan dalam penelitian (Poerwadarminto, 1990:116). Dalam hal ini faktor-faktor geografi yang berkaitan dengan pengembangan objek wisata Segitiga Danau di Kecamatan Ranuyoso Kabupaten Lumajang, sebagai berikut: 1) faktor alam meliputi lokasi, keadaan iklim, keadaan geologi, keadaan morfologi, kondisi tanah, kondisi air, floradan fauna; dan 2) faktor sosial dan pengembang meliputi keadaan penduduk, daya tarik, infrastruktur, fasilitas pelayanan, akomodasi, permodalan, pengelolaan yang ada di objek wisata Segitiga Danau.
E.       Metode Pengumpulan Data
Data merupakan faktor yang sangat penting dalam penelitian. Maksud dari pengumpulan data adalah untuk memperoleh sejumlah informasi atau keterangan yang relevan, akurat danreliabel yang dikumpulkan oleh peneliti (Rohman, 2005:70). Dalam penelitian ini alat pengumpulan data yang digunakan adalah:
1.      Metode dokumentasi
Metode ini digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian dari instansi terkait yaitu Dinas Pariwisata dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) serta kantor pengelola objek wisata untuk memperoleh data jumlah pengunjung, luas objek wisata, infrastruktur kepariwisataan dan fasilitas pendukung serta peta lokasi dan denah objek wisata. Dalam metode dokumentasi digunakan kajian pustaka dan kajian peta, kajian pustaka digunakan untuk mengetahui teori-teori yang berhubungan dengan penelitian, sedangkan kajian peta digunakan untuk mengkaji faktor-faktor geografi fisik yang berkaitan dengan penelitian.
2.      Metode Observasi
Metode ini digunakan dengan cara pengamatan secara langsung terhadap objek untuk memperoleh gambaran nyata sebagai bahan perbandingan hasil metode angket terutama mengenai kondisi infrastruktur kepariwisataan dan fasilitas pelayanan yang tersedia di objek wisata serta hasil metode dokumentasi selain itu metode ini juga digunakan untuk mengetahui kondisi iklim, geologi, tanah, morfologi dan kondisi hidrologi di daerah penelitian.
3.      Metode Angket
Metode ini digunakan dengan cara memberikan angket kepada pengunjung secara langsung. Item yang digunakan dalam pertanyaan ini berupa isian dan pilihan untuk mendapatkan data tentang daya tarik wisata, fasilitas, akomodasi, infrastruktur, aksesibilitas dan faktor geografis yang menunjang perkembangan objek wisata Segitiga Danau.
4.      Metode Wawancara
Metode Wawancara digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui angket. Metode ini bertujuan untuk memperoleh informasi secara langsung dari instansi yang terkait tentang faktor-faktor geografis yang mendukung dalam pengembangan objek wisata Segitiga Danau, informasi tentang program pembangunan objek wisata Segitiga Danau, informasi tentang kondisi objek wisata baik fisik maupun sosial dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan objek wisata tersebut.
F.       Analisis Data
Setelah melakukan penggalian data di lapangan selanjutnya dilakukan analisis data. Dalam analisis data penulis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis SWOT.
1.      Analisis Deskriptif Kualitatif
Analisis deskriptif kualitatif yaitu pengolahan data dengan melakukan proses mengatur, mengurutkan data yang terkumpul yang terdiri dari catatan-catatan lapangan, baik melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan angket. Data tersebut diatur dan diurutkan sesuai kebutuhan peneliti, sehingga informasi kualitatif tersebut disusun atas pikiran, intuisi, pendapat dan kriteria tertentu. Dengan melakukan proses analisis tersebut, maka data yang diperoleh akan memberikan gambaran secara nyata tentang aspek-aspek yang menjadi fokus penelitian yang kemudian akan memberikan jawaban atas masalah yang sedang diteliti sehingga data tersebut dapat dianalisis dengan menginterpretasikan kedalam suatu urutan dasar berupa suatu kesimpulan dan saran.
2.      Analisis SWOT
Metode ini digunakan untuk mengetahui metode strategi pengembangan melalui analisis SWOT dengan cara menganalisis faktor-faktor eksternal (peluang dan ancaman) dan faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dengan matriks EFE dan IFE. Matriks External Factor Evaluation (EFE) digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang berupa peluang dan ancaman yang dihadapi. Data faktor eksternal dicari untuk menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan persoalan ekonomi, budaya, sosial, lingkungan, demografi, politik, hukum, pemerintahan, teknologi, dan persaingan pasar. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang berupa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Data faktor internal dicari untuk menganalisis hal-hal yang berkaitan dengan beberapa fungsional perusahaan, misalnya dari aspek manajemen, keuangan, sumber daya manusia, pemasaran, sistem informasi, dan produksi.
a.       Matrik Faktor Strategi Eksternal
Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal, kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFE). Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategi Eksternal (EFE) :
1)  Susunlah dalam kolom 1 daftar faktor-faktor utama yang mempunyai dampak penting pada kesuksesan atau kegagalan usaha yang terdiri berbagai peluang (opportunities) dan ancaman(threats).
2) Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Jumlah seluruh bobot harus sebesar 1,0. Nilai bobot dicari dan dihitung berdasarkan rata-rata industrinya. Nilai bobot yang ditentukan adalah :
- 0,20 atau 20% : Kuat atau tinggi
- 0,15 atau 15% : Diatas rata-rata
- 0,10 atau 10% : Rata-rata
- 0,05 atau 5% : Dibawah rata-rata
- 0,00 atau 0% : Tidak terpengaruh.
3)  Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (sangat lemah) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4, tetapi jika peluangnya kecil, diberi rating +1). Pemberian nilai rating ancaman adalah kebalikannya. Misalnya jika nilai ancamannya sangat besar, ratingnya adalah 1. Sebaliknya, jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. Rating ditentukan berdasarkan efektivitas strategi objek wisata Segitiga Danau. Dengan demikian, nilainya didasarkan pada kondisi objek wisata tersebut.
4) Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor.
5) Gunakan kolom 5 untuk memberikan komentar atau catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung.
6) Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi objek wisata yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana objek wisata tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan objek wisata lainnya dalam kelompok industri yang sama.
TABEL 3.1 MATRIKS EXTERNAL FAKTOR EVALUATION (EFE)
Faktor-faktor Strategi Eksternal
4
3
2
1
 Peluang
- Sektor Pariwisata yang semakin berkembang dan semakin diminati.
- Menyerap tenaga kerja di daerah sekitar objek wisata yang dapat mengurangi pengangguran.
- Melestarikan budaya
- Teknologi yang semakin berkembang
- Omongan atau opini positif dari wisatawan ke orang lain.




 Ancaman
- Persaingan pariwisata antar objek wisata
- Terjadinya bencana/gangguan alam
- Kondisi Jalan yang rusak
- Kurangnya alat transportasi umum
- Kurangnya dukungan Pemerintah Daerah (dalam promosi dan sarana-prasarana)




Keterangan :
Rating 4 = Respon perusahaan superior
Rating 3 = Respon perusahaan di atas rata-rata
Rating 2 = Respon perusahaan rata-rata
Rating 1 = Respon perusahaan jelek           
b.       Matrik Faktor Strategi Internal
Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi, suatu tabel IFAS disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka kekuatan dan kelemahan perusahaan. Tahapnya adalah :
1) Susunlah dalam kolom 1 yang terdiri dari faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan objek wisata.
2) Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis. (Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1,00)
3) Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (sangat kuat) sampai dengan 1 (sangat lemah) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi objek wisata yang bersangkutan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama. Sedangkan variabel yang bersifat negatif, kebalikannya. Contohnya, jika kelemahan objek wisata besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri, nilainya adalah 1, sedangkan jika kelemahan objek wisata di bawah rata-rata industri, nilainya adalah 4. Rating mengacu pada kondisi objek wisata Segitiga Danau, sedangkan bobot mengacu pada industri pariwisata di mana objek wisata Segitiga Danau berada.
4) Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3, untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4 sampai dengan 1.
5) Gunakan kolom 5 untuk memberikan komentar atau catatan mengapa faktor-faktor tertentu dipilih dan bagaimana skor pembobotannya dihitung.
6) Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4), untuk memperoleh total skor pembobotan bagi objek wisata yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana objek wisata tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan objek wisata lainnya dalam kelompok industri yang sama.
TABEL 3.2 MATRIKS INTERNAL FACTOR EVALUATION (IFE)
Faktor-faktor Strategi Internal
4
3
2
1
 Kekuatan
- Pemandangan alam yang indah, berhawa sejuk dan masih asri.
- Objek Wisata yang unik dan menarik dengan joglo-joglonya.
- Keramahan masyarakat sekitar
- Merupakan paket wisata yang lengkap dengan beberapa pilihan fasilitas




 Kelemahan
- Kurang atraksi wisata seperti pergelaran kesenian
- Promosi belum maksimal
- Kurangnya toko souvenir
- SDM rendah kualitasnya




Keterangan :
Rating 4 = Kekuatan utama (sangat kuat)
Rating 3 = Kekuatan minor (kuat)
Rating 2 = Kelemahan minor (lemah)
Rating 1= Kelemahan utama (sangat lemah)
c.        MATRIKS SWOT
Menurut Freddy Rangkuti (2005), alat analisis yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matrik SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis.

TABEL 3.3 MATRIKS SWOT
                                          IFE

EFE
STRENGTHS(S)
Tentukan 5-10 faktor-faktor kekuatan internal
WEAKNESSES(W)
Tentukan 5-10 faktor-faktor kelemahan internal
OPPORTUNITIES(O)
Tentukan 5-10 faktor peluang eksternal
STRATEGI SO
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
STRATEGI WO
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk meminimalkan kelemahan untuk meraih peluang.
TREATHS(T)
Tentukan 5-10 faktor ancaman eksternal
STRATEGI ST
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman
STRATEGI WT
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk menghindari ancaman

BAB IV 
HASIL PENELITIAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar